Jumat, 28 Desember 2007

BERSYUKUR 2

BERSYUKUR II

Allah swt berfirman, “Dan (ingatlah juga), tatkala Rabb kalian mema’lumkan, ‘Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’”
Di dalam ayat ini Allah menawarkan dua pilihan, antara bersyukur dan kufur (nikmat). Jika bersyukur, maka nikmat akan ditambah. Namun, jika kufur, azab Allah amat pedih. Bagi orang yang berakal, tentu dia akan bersyukur. Siapa orang yang nikmatnya tidak ingin ditambah? Semua orang pasti menginginkannya. Siapa pula yang ingin mengecap ancaman lantaran tidak bersyukur? Jadi, orang yang berakal pasti akan memilih bersyukur daripada kufur (nikmat).
Jika dia bersyukur, maka dia harus kembali bersyukur, karena nikmat yang diberikan untuknya telah bertambah. Jika bersyukur, dia kembali harus bersyukur, karena nikmat yang lebih besar telah diterimanya. Sehingga bagi orang yang bersyukur tidak ada kata untuk berhenti dalam bersyukur. Terlebih lagi Allah swt berfirman, “Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kalian menghinggakannya. Sesungguhnya manusia sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”
Allah swt memberikan contoh, cara kita bersyukur. Di dalam surat Al-Kautsar dijelaskan, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah.”
Mendirikan shalat adalah salah satu cara untuk bersyukur. Rasulullah saw adalah orang yang amat rajin menunaikan shalat Tahajud. Padahal beliau sudah dijamin masuk surga, namun mengapa beliau tetap rajin menunaikan shalat malam? Pertanyaan ini pula yang mengusik benak para sahabat. Ketika ditanya demikian, beliau menjawab, “Bukankah lebih baik, aku menjadi hamba yang bersyukur.” Alangkah indahnya, ucapan beliau. Ucapan ini merupakan suatu sikap bahwa bersyukur harus dilakukan oleh siapapun juga orangnya.
Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan sebuah hadits di dalam kitab "Shahih mereka berdua". Hadits ini berasal dari Abu Hurairah, bahwasanya beliau mendengar Rasulullah saw bersabda, "Ada tiga orang Bani Israil yang menderita penyakit kusta, botak dan buta. Allah ingin menguji mereka. Maka, Allah mengutus malaikat kepada mereka. Malaikat mendatangi mereka satu persatu dan menyembuhkan semua penyakit yang diderita mereka. Selain itu, mereka diberi harta yang cukup banyak (ada yang dalam bentuk unta, sapi dan kambing, semuanya dalam jumlah yang banyak)
Setelah beberapa lama berselang, malaikat itu mendatangi si penderita kusta, si botak dan si buta dalam bentuk dan rupa seorang laki-laki miskin. Kepada mereka masing-masing, laki-laki miskin itu memohon bantuan. Namun si penderita kusta dan si botak menolak untuk memberikan bantuan. Si penderita kusta menolak untuk menginfakkan seekor untanya. Bahkan dia mengingkari bahwa unta itu merupakan pemberian Allah. Demikian pula dengan si botak, dia menolak untuk menginfakkan seekor sapinya. Akibat keingkarannya ini, malaikat tersebut berkata kepada mereka masing-masing, "Jika engkau berdusta, maka engkau akan kembali pada kondisimu yang dulu."
Lain halnya dengan si buta, dia menjawab, "Dulu saya buta. Kemudian Allah mengembalikan penglihatanku. Dulu saya miskin. Kemudian Allah membuat saya menjadi kaya. Ambillah sesukamu dan tinggalkanlah sesukamu. Demi Allah saya tidak susah, lantaran sesuatu yang engkau ambil karena Allah."
Malaikat itu berkata, "Jagalah hartamu! Engkau baru saja diuji. Allah telah meridhaimu dan membenci kedua sahabatmu.”
Kisah di atas adalah contoh bagi orang bersyukur dan kufur terhadap nikmat Allah.
Terkadang kekurangan yang kita miliki, harus kita syukuri. Mungkin kita masih ingat dengan seseorang yang hidup di masa Rasulullah. Dia adalah sosok yang amat rajin menunaikan shalat berjamaah. Hanya saja, dia termasuk orang yang miskin. Kemudian dia meminta Rasulullah untuk mendoakan agar keadaannya menjadi berubah. Rasul pun mendoakannya. Setelah itu, dia mulai mempunyai beberapa hewan ternak. Tatkala hewan ternak semakin bertambah, dia tidak lagi sempat menunaikan shalat berjamaah di masjid. Bukankah kekurangannya ini patut disyukuri. Sebab, tatkala dia kekurangan, dia rajin menunaikan shalat berjamaah.
Rasulullah saw bersabda, “Allah swt menulis atas anak Adam (manusia) perbuatan zinanya…….selanjutnya beliau bersabda, zina mata adalah melihat, zina lidah adalah berkata-kata.” (HR Bukhari bab. Isti’dzan 6243, HR Muslim 2657/20)
Bila kita memperhatikan hadits di atas, mungkin orang buta akan bersyukur, karena dia tidak melakukan zina mata. Orang bisu pun akan melakukan hal yang sama, akan bersyukur karena tidak melakukan zina lidah.
Kekurangan janganlah dijadikan beban. Hal-hal yang belum dapat dicapai jangan terlalu dipusingkan. Berusaha terus, berdoa tidak putus-putus dan terus mensyukuri kekurangan yang ada. Jadi, mensyukuri kekurangan, bukan berarti menghalangi kita untuk maju.
Walaupun ganjaran bagi orang bersyukur sudah dikumandangkan, ancaman bagi orang yang tidak bersyukur juga didengungkan. Mengingatkan kembali akan asal usul, juga sudah dilakukan, tetap saja ada orang yang tidak bersyukur. Si kusta dan si botak melupakan masa lalunya yang suram. Namun si buta tidak demikian. Kita tinggal memilih, ingin bercermin ke mana.

Tidak ada komentar: