Jumat, 28 Desember 2007

BERSYUKUR 1

BERSYUKUR I
Allah swt berfirman yang artinya: “Dan ingatlah juga, tatkala Robmu memaklumkan “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih”(QS 14:7) .

Kita baru merasakan nikmatnya melihat, manakala mata kita sakit. Kita akan teringat nikmatnya mendengar suara alam, burung berkicau, tatkala telinga kita tersumbat air. Kita akan bersyukur telah berhasil mengecap pendidikan bila kita melihat ada anak yang putus sekolah. Kenapa demikian ??. Sudah begitu keraskah hati kita. Padahal Allah swt memberikan pilihan dengan cara menambah nikmat-Nya bagi orang yang bersyukur. Dan Allah juga mengancam dengan adzab-Nya yang pedih bagi orang-orang yang kufur nikmat. Bagi orang yang berakal tentu akan memilih sikap bersyukur atas nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya.

Syukur atas nikmat, merupakan bukti berbaktinya manusia kepada Allah. Bagi orang yang telah mengesakan Allah sebagai penciptanya. Bagi orang yang telah menetapkan dirinya hanya mengabdi, menyembah dan beribadah kepada Allah saja, maka ia akan bersikap mensyukuri nikmat yang diberikan Allah kepadanya. Allah swt berfirman yang artinya:…….syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah (QS 16:114).

Suatu ketika Abdurrahman ibn Jarir bertanya kepada Salamah bn. Dinar ( beliau salah seorang tabi’in atau orang yang hidup ketika generasi para sahabat Rasulullah saw masih ada ). Ia bertanya, “Wahai Abu Hazim ( panggilan Salamah bn. Dinar ), seringkali kita memperoleh sesuatu yang harus kita syukuri. Lantas bagaimana sebenarnya hakikat syukur itu ?”. Dijawab, “Untuk setiap bagian dari tubuh kita adalah syukur”. Kemudian ditanya bagaimana cara mensyukuri kedua mata. Abu Hazim menjawab bahwa mensyukuri kedua mata adalah menyiarkan kebaikan setelah kita melihat kebaikan itu dan menutupi keburukan setelah kita melihatnya. Adapun mensyukuri kedua telinga, kata Abu Hazim melanjutkan adalah engkau sadari atau engkau pahami apabila engkau mendengar kebaikan. Dan engkau tanam dalam-dalam tatkala engkau mendengar keburukan. Sedangkan bersyukur dengan kedua tangan adalah tidak menggunakannya untuk mengambil yang bukan hakmu dan tidak boleh dipakai untuk menghalangi hak-hak Allah swt. Kemudian Abu Hazim menerangkan bahwa barang siapa yang membatasi syukurnya hanya dengan lidahnya tanpa menyertakan anggota badannya, maka dia seperti seseorang yang memiliki pakaian yang hanya dibawa dengan tangannya tetapi tidak dipakainya. Dengan begitu ia tidak bisa terhindar dari terik matahari dan hawa dingin[1]. Sudahkah para konglomerat bersyukur dengan harta-hartanya?. Dan sudahkah para penguasa bersyukur dengan kekuasaannya?. Kita tunggu jawabannya.

[1] Insan Teladan dari Para Tabi’in, karya DR. Abdurrahman Ra’fat Basya

MENJELANG LEBARAN

MENJELANG LEBARAN
Peristiwa ini terjadi di masa pemerintahan khalifah Al-Makmun. Di masa itu, hiduplah tiga orang sahabat yang masing-masing bernama Abu Abdullah Al-Waqidi, Wafa bin Rafi' dan Ahmad Al-Hasyimi.
Di hari menjelang lebaran, Ummu Abdullah –istri Abu Abdullah Al-Waqidi- mengeluhkan keadaan anak-anak mereka. Pakaian anak-anak mereka sudah tak layak dipakai. Sedangkan anak-anak tetangga mereka telah memiliki pakaian baru. Karena kasihan dan merasa bertanggung jawab, Al-Waqidi berusaha mencari pinjaman. Dia pergi menemui sahabatnya yang bernama Ahmad Al-Hasyimi. Hasilnya, Al-Waqidi memperoleh sekantung uang.
Di tengah perjalanan, Al-Waqidi bertemu dengan sahabatnya yang lain, dia bernama Wafa bin Rafi'. Wafa mengeluhkan permasalahannya dan ternyata dia juga membutuhkan uang untuk menyambut lebaran. Tanpa ragu, Al-Waqidi menyerahkan uang tersebut dan dia pulang dengan tangan hampa.
Sesampainya di rumah, Al-Waqidi bertemu dengan istrinya. Dia menceritakan tentang eratnya persaudaraan mereka bertiga (Al-Waqidi, Al-Hasyimi dan Wafa). Kemudian beliau menceritakan tentang hadits yang menceritakan tentang kisah Rasulullah dan Aisyah yang menyembelih seekor domba. Lalu beliau bertanya, "Apa yang tersisa dari domba itu?" Aisyah menjawab, "Hanya pundaknya." Mendengar jawaban itu, Rasul saw bersabda, "Semuanya masih tersisa (balasan di akhirat kelak) kecuali pundaknya."
Kemudian Al-Waqidi menyitir sebuah ayat, "Mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan." (QS Al-Hasyr (59):9). Setelah itu Al-Waqidi menceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya. Mendengar kisah ini, istri Al-Waqidi senang dan mendukung sikap suaminya.
Lain halnya dengan Wafa. Belum sempat dia menggunakan uang yang di dapatnya, bahkan belum sempat dia buka kantong uang tersebut, sahabatnya Al-Hasyimi datang memohon bantuan. Tanpa ragu, Wafa langsung menyerahkan kantung uang itu kepada Al-Hasyimi.
Peristiwa ini merupakan cermin buat kita semua, buat kaum muslimin. Hasyimi lebih mementingkan saudaranya, walaupun ternyata dia sendiripun membutuhkannya. Demikian pula dengan Al-Waqidi. Dia membutuhkan biaya untuk keperluan lebaran. Wafa pun membutuhkan uang untuk lebaran, sehingga dia harus meminjam dari Al-Waqidi. Namun mereka semua saling mengutamakan yang lain. Potret ini akan sangat berbeda sekali dengan potret kaum muslimin menjelang lebaran. Mereka masing-masing sibuk menyambut lebaran. Rasa individualis mereka mendadak meninggi menjelang lebaran ini.