Minggu, 23 Oktober 2011

SEBUAH PENGHARAPAN

Saya baru saja membaca tulisan mas Bayu Gawtama yang berjudul Menutup Mata dengan Senyuman. Di dalam tulisannya ini, mas Bayu menceritakan tentang dua kakeknya yang meninggal dengan senyuman manis di wajah.

Kakek dari ibunya dikenal sebagai orang baik. pada cucu dan dia juga memiliki anak-anak yatim. Anak-anak yatim sudah menganggapnya sebagai pengganti Ayah mereka yang entah dimana.

Kakek dari ayahnya pun demikian. Dikenal baik oleh masyarakat. Seorang tokoh masyarakat. Telah mewakafkan tanah dan masjid yang dibangun di atas tanah itu dinamakan dengan potongan namanya.

Sehingga wajar, dua orang kakeknya mas Bayu ini menutup mata dengan senyuman indah. Karena hidupnya penuh dengan amal shalih.

Usai membaca ini, saya jadi teringat pada kedua mertua saya. Mertua laki-laki menutup mata di atas sajadah, di waktu Dhuha. Entah akan menunaikan shalat Dhuha atau telah menunaikan shalat Dhuha.

Mertua perempuan diketahui sempat mengucapkan dua kalimat syahadat sebelum menemui Allah swt.

Tante saya, Sumera, juga meninggal dalam rangka menolong seseorang. Tante Mera begitu panggilannya ditabrak oleh motor yang membawanya pada maut. Di hari itu, dia berniat akan menemui seorang sahabatnya untuk bersama-sama menjodohkan seseorang. Pendek kata, tante saya dan sahabatnya ingin menjadi comblang seseorang.

Namun apa hendak dikata, belum sempat mencomblang ‘sasarannya’, tante saya ditabrak motor.

Paman saya juga meninggal setelah sebelumnya ditabrak motor juga. Namun, di hari dia ditabrak, beliau dalam kondisi berpuasa.

Dapatkah ketika ajal tiba, wajah ini penuh dengan senyuman? Atau ketika ajal menjemput, diri ini dalam kondisi menunaikan amal shalih. Ya Allah, bantulah untuk selalu menunaikan amal shalih di setiap saat. Aaamiiin

Sabtu, 01 Oktober 2011

SERIUS TAPI SANTAI

Belakangan terakhir, saya baru saja menamatkan jilid pertama sebuah novel trilogy. Ceritanya menarik. Mengenai seorang pembunuh bayaran wanita campuran Indonesia dan Amerika.
Saya menyelesaikan bacaan itu dalam waktu yang relative singkat. Karena saya dapat berlama-lama membaca novel itu.
Beda sekali ketika membaca bacaan ‘serius’. Kalau membaca bacaan ‘santai’ seperti novel, dapat betah di hadapannya. Tapi kalau membaca bacaan ‘serius’, tidaklah demikian.
Padahal kalau dilihat dari segi kepentingan, lebih penting bacaan ‘serius’ daripada bacaan ‘santai’. Tapi mengapa sikap saya seperti itu?
Sikap dalam membaca di atas mungkin juga dialami oleh teman-teman. Dapat kerasan membaca bacaan ‘santai’, tapi tidak kuat lama membaca bacaan ‘serius’.
Melihat kondisi ini, para penulis –khususnya para penulis buku-buku serius- sepertinya perlu untuk mencoba mengubah tekhnik penulisannya.
Seperti membahas masalah ushul fikih dikemas dalam cerpen atau novel. Buku tentang kondisi politik suatu negara disajikan dalam bentuk fiksi.

Kamis, 22 September 2011

MAS BEJO LAGI



Semakin sering bertemu mas Bejo, semakin banyak tahu siapa dia. Beberapa hari yang lalu, saya kembali mampir ke warung nasi gorengnya. Tapi kali ini bukan untuk makan. Hanya sekedar minum es jeruk dan ngobrol saja.
Datang seorang wanita cantik. Mas Bejo langsung bertanya, “Mas…(dia menyebutkan nama seseorang) dah cerita mbak?”
“Iya mas. Saya ke sini juga karena urusan itu.”
Mendengar jawaban wanita itu, saya langsung menduga bahwa ini mungkin urusan hutang piutang.
“Kalo gak ada, ntar aj mbak.”
Mendengar jawaban mas Bejo, saya semakin yakin bahwa pembicaraan mereka seputar hutang.
“Ah nggak mas Bejo. Saya ke sini mau bayar. Adik saya makan apa saja?”
“Bihun, nasi dan dua botol teh,” jawab mas Bejo
Dia pun menyebutkan sejumlah nilai nominal.
Melihat sikap mas Bejo yang memberi kesempatan penangguhan pembayaran hutang, saya angkat topi. Sebab tidak semua orang bersikap seperti itu. Tidak semua orang mau memberi penangguhan pembayaran hutang. Banyak orang yang ingin agar penghutang segera menunaikan kewajibannya.
“Orang yang menangguhkan pembayaran hutang orang yang belum mampu membayarnya, maka sebelum masa pembayaran itu tiba, setiap hari merupakan sedekah baginya. Dan jika masa pembayaran telah tiba, lalu ia memberi tangguh, maka setiap harinya merupakan sedekahnya dua kali lipat.” (HR Ahmad [5/360], dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Ash-Shahihah [1/86]).


Jumat, 16 September 2011

DUNIA PENUH KEDAMAIAN

Selepas Maghrib, hujan turun di daerah Bambu Wulung. Pula di daerah tempat mangkalnya Mas Bejo, tukang nasi goreng. Jalanan yang basah menuju kediaman juga menunjukkan demikian.
Alhamdulillah hujan kini sudah mulai turun. Mereka yang kekeringan, sulit memperolah air, semoga sudah mulai tersenyum kembali.
Senang rasanya, lega rasanya melihat mereka yang sulit memperoleh air, kini sudah mulai bisa berharap. Berharap sesuai dengan pepatah ‘Panas setahun dibalas dengan hujan sehari’.
Dua mobil angkot berpapasan. Salah satunya sarat dengan penumpang. Melihat kondisi ini, temannya yang satunya lagi mengacungkan jempol. Senang melihat rezeki temannya sedang berkah.
“Gimana dagangannya?” tanya salah seorang tukang roti pada sahabatnya
“Alhamdulillah, lihat saja! Tinggal dua potong, “ jawab bang Miun
“Alhamdulillah jam segini udah tinggal dua potong. Gw masih lumayan banyak nih,” jelas sahabat Miun.
“Gw doain, semoga rezeki elo berkah hari ini,”
“Aaamiiin.”
Senang melihat mereka yang kekeringan sudah mulai tersenyum. Acungan jempol seorang supir angkot pada sahabatnya yang membawa angkot dengan sarat penumpang. Ikut bersyukur atas lakunya dagangan sahabatnya.
Ketiga pemandangan ini patut untuk dijaga, dilanjutkan. Mungkin dengan menjaga dan melestarikan pemandangan seperti ini, kondisi jalan raya tidak penuh dengan sopir yang ugal-ugalan. Tidak akan ada saling menjatuhkan antar pedagang.
Indahnya dunia ini yang penuh kedamaian.

Kamis, 24 Februari 2011

Kamis, 06 Januari 2011

Alquran dan Sains Modern

"Tak ada benturan dan pertentangan antara Islam dengan sains," cetus Ketua Persatuan Ulama Umat Islam Dunia, Dr Yusuf Al-Qaradhawi, dalam sebuah kesempatan. Alih-alih bertentangan, para saintis modern Barat telah membuktikan bahwa ajaran Islam sangat sejalan dengan ilmu pengetahuan modern.
Alquran sebagai kitab suci dan petunjuk hidup umat Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW pada 14 abad silam, secara mengagumkan, mengungkapkan sederet fenomena ilmu pengetahuan yang telah terbukti akurasi dan kebenarannya. Hal itu berbeda dengan Bible--ajaran Kristen yang justru memiliki banyak perbedaan pandangan dengan ilmu pengetahuan.
Munculnya perbedaan pandangan antara Bible dengan sains memang telah mengundang perdebatan di kalangan penganut Kristen. Banyaknya ketidaksesuaian antara Bible dengan sains diungkapkan Robert C Newman dalam sebuah tulisannya bertajuk Conflict between Christianity and Science. Hal itu kerap mengundang keraguan di kalangan Nasrani tentang kebenaran Bible sebagai firman Tuhan.
Setelah melakukan berbagai penelitian ilmiah, para saintis Barat telah membuktikan kebenaran janji Allah SWT tentang isi Alquran. Dalam surah Albaqarah ayat 2, Allah SWT berfirman, "Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa."
Prof Keith L Moore, guru besar Departemen Anatomi dan Biologi Sel Universitas Toronto, telah membuktikan kebenaran firman Allah SWT itu. "Saya tak tahu apa-apa tentang agama, namun saya meyakini kebenaran fakta yang terkandung dalam Alquran dan sunah," papar Moore yang terkagum-kagum dengan kandungan Alquran yang secara akurat menjelaskan perkembangan embrio manusia.
Berikut ini sebagian kecil fakta penting tentang kandungan Alquran yang sejalan dengan temuan dunia sains modern.
Pembentukan awan
Para saintis telah mempelajari beragam jenis awan. Selain itu, kalangan ilmuwan juga meneliti proses terbentuknya awan dan bagaimana hujan terjadi. Secara ilmiah, saintis memaparkan proses terjadinya hujan dimulai dari awan yang didorong angin. Awan Cumulonimbus terbentuk ketika angin mendorong sejumlah awan kecil ke wilayah awan itu bergabung hingga kemudian terjadi hujan.
Tentang fenomena pembentukan awan dan hujan itu, Alquran pun menjelaskannya secara akurat. Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)-nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih. Maka, kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan, seperti) gunung-gunung. Maka, ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan." (QS Annur: ayat 43).
Lautan dan sungai
Ilmu pengetahuan modern telah menemukan adanya batas di tempat pertemuan antara dua lautan yang berbeda. Pembatas itu membagi dua lautan sehingga setiap laut memiliki temperatur, berat jenis, dan kadar garam masing-masing. Misalnya, laut Mediterania memiliki air yang hangat serta kadar garam dan berat jenisnya lebih rendah dibandingkan Samudra Atlantik.
Temuan sains modern itu sejalan dengan Alquran yang telah mengungkapkannya sejak 14 abad lampau. Dalam surah Arrahman ayat 19-20, Allah SWT berfirman, ''Dia membiarkan dua lautan mengalir, yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya, ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.''
Perbedaan kadar garam kedua lautan yang dipisahkan pembatas itu juga diungkapkan dalam surah Alfurqan ayat 53, "Dan, Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi." Kebenaran ayat Alquran itulah yang membuat para saintis Barat berdecak kagum.
Pentingnya ASI
Dunia kesehatan modern beberapa tahun ini mulai menggaungkan pentingnya pemberian Air Susu Ibu (ASI). Anjuran itu mulai digalakkan karena ASI memiliki banyak keunggulan. Secara ilmiah, ASI merupakan makanan bagi bayi yang telah terbukti memiliki keunggulan dibandingkan dengan susu sapi atau susu yang berasal dari sumber lain. Alquran telah menyatakan pentingnya pemberian ASI bagi bayi dan batita sejak 14 abad lampau.
Dalam surah Albaqarah ayat 233, Allah SWT berfirman, "Para ibu hendaknya menyusukan anak-anaknya selama 2 tahun penuh. Yaitu, bagi yang ingin menyempurnakan penyusuannya. Dan, kewajiban ayah memberikan makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma'ruf."
Serebrum (otak besar)
Pada surah Al 'Alaq ayat 15-16, Allah SWT berfirman, "Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian), niscaya Kami tarik ubun-ubunnya. (Yaitu) ubun-ubun orang mendustakan lagi durhaka." Ubun-ubun inilah yang disebut para saintis sebagai serebrum (otak besar). Lalu, apa hubungannya dengan kebohongan dan serebrum?
Secara psikologi, otak besar ini ternyata bertanggung jawab untuk merencanakan, memotivasi, dan memprakarsai hal yang baik ataupun buruk. Otak besar juga bertanggung jawab atas kebohongan dan kebenaran yang dikatakan seseorang.
Pembentukan embrio manusia
Alquran secara gamblang telah menjelaskan proses pembentukan embrio manusia. "Dan, sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian, Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan segumpal darah. Lalu, segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang. Lalu, tulang belulang itu Kami bungkus daging. Kemudian, Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain ...." (QS Almu'minun: 12-14).
Fakta yang diungkapkan dalam Alquran itu sungguh mencengangkan para saintis modern Barat. "Saya sungguh sangat membahagiakan bisa membantu mengklarifikasi pernyataan Alquran tentang perkembangan manusia. Jelaslah bagi saya, pernyataan (Alquran) itu pastilah turun kepada Muhammad dari Tuhan," papar Prof Keith L Moore, ilmuwan terkemuka dalam bidang anatomi dan embriologi.
"Sebab, hampir semua pengetahuan itu belum ditemukan hingga beberapa abad kemudian. Ini membuktikan kepada saya bahwa Muhammad adalah seorang Rasul utusan Tuhan," imbuhnya.
Kesaksian Para Saintis tentang Alquran

* Prof E Marshall Johnson
Guru besar dan Ketua Departemen Anatomi dan Perkembangan Biologi Universitas Thomas Jefferson, Philadelphia, Pennsylvania, AS, itu mulai tertarik untuk meneliti tanda-tanda ilmiah yang terdapat dalam Alquran dalam ajang Konferensi Medis ke-7 Arab Saudi Tahun 1982. Ketika itu, dibentuk panitia khusus untuk menginvestigasi tanda-tanda ilmiah dalam Alquran dan hadis.
Setelah melakukan penelitian, Prof Johnson pun mengakui tanda-tanda ilmiah yang terkandung dalam Alquran. "Kesimpulannya, Alquran tak hanya menggambarkan perkembangan dalam bentuk eksternal. Namun, menekankan juga tahapan-tahapan proses pembentukan secara internal, tahapan-tahapan dalam embrio, penciptaan dan perkembangannya. Semuanya diakui oleh ilmu pengetahuan modern," papar Prof Johnson.
* Prof TVN Persaud
Guru besar Anatomi dan Kesehatan Anak dari Univeristas Manitoba,, Winnipeg, Manitoba, Kanada, itu juga mengakui bukti-bukti ilmiah yang tercantum dalam Alquran. Dia adalah penulis puluhan buku dan ratusan jurnal ilmiah. Pada tahun 1991, sempat meraih JCB Grant Award. Inilah pengakuannya tentang kebenaran Alquran yang disampaikannya saat memaparkan hasil penelitiannya di Kairo, Mesir.
"Awalnya, saat melihat Muhammad sebagai manusia biasa, tak bisa membaca dan tak tahu bagaimana menulis. Faktanya, dia adalah seorang buta aksara. Namun, apa yang diungkapkannya (Alquran) pada 1400 tahun lalu, secara mengagumkan, sungguh akurat dan sesuai dengan sains modern," papar Prof Persaud. Ia pun secara tegas menyatakan bahwa ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW pastilah firman Tuhan.
* Prof Joe Leigh Simpson
Guru besar dan Ketua Departemen Obstetrics dan Gynaecolog, Baylor College of Medicine, Houston, Texas, AS, itu juga mengakui kebenaran tanda-tanda ilmiah yang terdapat dalam Alquran. "Tak ada pertentangan antara genetika dengan agama Islam. Adalah fakta bahwa agama Islam telah menjadi petunjuk bagi ilmu pengetahuan," cetusnya. Prof Simpson pun meyakini bahwa Alquran berasal dari Tuhan. Sebab, Nabi Muhammad SAW tak bisa membaca dan menulis.
* Prof Alfred Kroner
Guru besar Departemen Geosains Universitas Mainz, Jerman, ini dikenal sebagai salah seorang geolog terkemuka dunia. Ia mengaku terkagum-kagum dengan isi Alquran yang mampu menjelaskan asal mula terbentuknya alam semesta. "Memikirkan dari mana Muhammad berasal ... saya berpikir hampir tak mungkin dia telah mengetahui banyak hal tentang asal mula alam semesta," paparnya.
Menurut dia, para ilmuwan saja baru mengetahui asal mula pembentukan alam semesta dalam beberapa tahun terakhir, dengan menggunakan kemajuan teknologi yang sangat rumit. Atas dasar itu, Prof Kroner juga meyakini bahwa Alquran yang disampaikan Nabi Muhammad SAW adalah firman yang berasal dari Tuhan.
* Prof Yushidi Kusan
Direktur Observatorium Tokyo, Jepang, ini juga menyatakan sangat terkagum-kagum dengan apa yang dijelaskan Alquran tentang alam semesta. "Saya sangat terkesan dengan fakta-fakta astronomi dalam Alquran yang terbukti kebenarannya. Kami, para astronom modern, baru mempelajari secuil saja tentang alam semesta," ungkapnya. "Dengan membaca Alquran dan menjawab pertanyaan, saya kira, saya dapat menemukan jalan di masa depan untuk menginvestigasi alam semesta."

Penulis : hri
REPUBLIKA - Rabu, 17 September 2008
http://koran.republika.co.id/berita/38851/Alquran_dan_Sains_Modern

Kamis, 02 Desember 2010

Simbol Kejayaan Peradaban Islam

Masjid Agung Umayyah memiliki peran yang amat penting dalam sejarah peradaban Islam. Secara historis dan budaya, masjid yang berdiri megah di jantung kota tua Damaskus, Suriah, itu merupakan salah satu tempat ibadah umat Islam yang paling tua. Inilah salah satu karya fenomenal dalam bidang arsitektur di era kekhalifahan yang menjadi simbol kejayaan dan kebanggaan peradaban Islam.

Arsitekturnya telah memberi pengaruh bagi seni bina masjid di seluruh dunia. Masjid Agung Umayyah yang diyakini sebagai salah satu tempat suci bagi kaum Muslimin, itu merupakan tempat lahirnya sejumlah elemen penting dalam dunia arsitektur Islam. Dari masjid inilah, arsitektur Islam mulai mengenal lengkungan (horseshoe arch), menara segi empat, dan maksurah.

Berdirinya Masjid Agung Umayyah berawal dari kedatangan Islam di bawah pimpinan Khalid bin Al-Walid di Suriah pada 635 M. Dengan menjunjung semangat toleransi, umat Islam yang menguasai Damaskus memberi kebebasan bagi penganut Nasrani untuk beribadah. Kedua pemeluk agama samawi ini lalu bersepakat untuk membagi dua gereja St John.

Umat Islam beribadah di sebelah timur dan di bagian barat digunakan penganut Kristen sebagai gereja. Tempat ibadah kedua agama ini hanya dipisahkan dinding tembok. Berbilang waktu, jumlah umat Islam di Damaskus terus bertambah banyak. Sehingga, bangunan gereja yang dibagi dua itu tak lagi mampu menampung jumlah umat Islam yang kian bertambah banyak.

Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik (705-715 M) lalu memutuskan untuk membangun masjid yang megah. Umat Islam pun segera bernegoisasi dengan komunitas Kristen Damaskus. Lewat pembicaraan yang alot, akhirnya kedua belah pihak mencapai kata sepakat. Khalifah Al-Walid memutuskan untuk membeli lahan dan mulai membangun masjid yang sangat megah.

Sarjana Barat kerap menuding pembangunan Masjid Agung Umayyah sebagai bentuk intoleransi umat Islam. Benarkah? Tudingan itu ternyata salah kaprah. Sebuah studi yang dilakukan Golvyn L (1971) dalam bukunya berjudul, Art religieux des Umayyades de Syrie, membuktikan tuduhan itu tak benar dan tak berdasar. Golvyn berhasil meneliti teks yang ditulis Uskup Arculfe.

Dalam teks itu, sang uskup menyatakan kaum Muslimin memiliki masjid sendiri dan gereja St John dibangun umat Kristen di bawah pemerintahan Islam. Penjelasan Uskup Arculfe itu juga didukung dengan sejumlah teks. "Jadi, Masjid Agung Umayyah tak dibangun di atas reruntuhan gereja St John sebagaimana yang dituduhkan sarjana Barat," papar Golvyn.

Proses pembangunan Masjid Agung Umayyah dimulai pada 87 H/705 M dan selesai pada 96 H/714 M. Biaya pembangunannya berasal dari pajak lahan pertanian (kharaj) yang dipungut pemerintahan Dinasti Umayyah. Pembangunan masjid terbesar pertama di abad ke-8 M itu melibatkan para seniman dan tukang bangunan dari berbagai negeri, seperti Persia, India, Afrika Utara, Mesir, dan Bizantium.

Sejarawan Al-Muqadassi menuturkan, Raja Bizantium turut menawarkan para tukang bangunan dan seniman serta bahan bangunan untuk membantu proses pembangunan Masjid Agung Umayyah. Sehingga, kemudian muncul anggapan bahwa gaya arsitektur masjid itu meniru seni bina bangunan Bizantium. Namun, anggapan itu dibantah oleh aristektur Barat KAC Creswell dalam bukunya, Early Muslim Architecture, dan Strzygowski (1930).

"Masjid Agung Umayyah adalah murni hasil kerja umat Islam yang terinspirasi oleh gaya Persia," papar kedua arsitektur kenamaan itu. Pada awalnya, masjid yang besar dan megah itu berdiri di atas lahan dengan panjang 157 meter dan lebar 100 meter serta terdiri atas dua bagian utama. Bagian halaman menempati hampir separuh area masjid dan dikelilingi serambi yang melengkung.

Bangunan masjid itu tampak megah dengan ditutupi kubah yang indah. Pada masjid itu juga terdapat tempat khusus untuk menampung zakat atau pendapatan negara yang bernama baitul mal. Bangunan baitul mal yang berada di sisi halaman sebelah barat itu pertama kali didirikan oleh Khalifah Al-Mahdi pada 778 M. Halaman masjid yang berbentuk persegi empat dibiarkan terbuka karena terinspirasi Masjid Nabi Muhammad SAW di Madinah.

Masjid ini dihiasi dengan tiga menara yang menjulang di langit Damaskus. Tiga menara yang menemani bangunan masjid yang megah itu terbilang unik. Sebab, biasanya jumlah menara yang ada pada masjid jumlahnya satu, dua, empat, atau tujuh seperti yang terdapat di Al-Haram As-Sharif (Kaabah).

Bentuk menaranya yang segi empat menandakan masjid inilah yang pertama kali menggunakan minaret. Terdapat tiga pintu utama untuk memasuki area Masjid Agung Umayyah. Pintu utama pertama terdapat di tengah tembok sebelah utara. Dua pintu lainnya terdapat di sisi tembok sebelah timur (bab jayru) dan sebelah barat (bab ziyada).

Di era kekhalifahan Islam, Masjid Agung Umayyah menjadi pusat kegiatan umat. Dari masjid inilah peradaban Islam terus berkembang luas hingga mencapai benua Asia, Afrika, dan Eropa. Pada masa itu, masjid tak hanya menjadi tempat untuk beribadah, namun juga menjadi pusat aktivitas ilmu pengetahuan.

Masjid Agung Umayyah makin bertambah istimewa karena berdiri di atas areal bersejarah pra-Islam. Para sejarawan kerap menghubungkan masjid ini dengan sejumlah tokoh agama yang termasyhur. Lahan yang dibangun masjid tersebut ternyata adalah makam Nabi Yahya AS. Sejarawan Ibnu al-Faqih melaporkan bahwa Zaid Ibnu Al-Waqid, yang memimpin pembangunan masjid menemukan tengkorak Nabi Yahya di dekat sebuah reruntuhan.

Khalifah Al-Walid lalu memerintahkan agar tengkorak Nabi Yahya itu dikuburkan di salah satu dermaga masjid yang kemudian dikenal sebagai Amud al-Sakasik. Sejarawan Harawi pada 1173 M mencatat bahwa tiang marmet berwarna hitam dan putih yang menopang kubah Al-Nasr (kubah di depan mihrah) masjid itu merupakan tahta Bilqis, ratu Saba di era Nabi Sulaiman AS. Menara sebelah timur atau yang biasa disebut sebagai Menara Isa diyakini sebagai tempat akan turunnya Nabi Isa AS.Hingga kini, Masjid Agung Umayyah yang dibangun 14 abad lalu masih berdiri dengan megah dan indah. hri


Dari masa ke masa

Sejak dibangun pada 705 M, Masjid Agung Umayyah dari masa ke masa mengalami banyak perubahan dan modifikasi. Terlebih, dunia Islam selalu mengalami perubahan kekuasaan dari satu dinasti ke dinasti lainnya. Berikut perjalannya dari masa ke masa:

Tahun 705 M: Proses pembangunan Masjid Agung Umayyah dimulai. Para arsitektur menyatakan, masjid ini murni hasil karya umat Islam dan tak meniru arsitektur Bizantium, namun terinspirasi gaya arsitektur Persia. Dibangun dengan dana yang dikumpulkan dari pajak tanah pertanian.

Tahun 714 M: Masjid Agung Umayyah selesai dibangun di atas lahan dengan panjang 157 meter dan lebar 100 meter. Pembangunannya membutuhkan waktu hampir satu dasawarsa.

Tahun 715 M: Khalifah Al-Walid I membangun sebuah maksurah yang membungkus mihrab (ceruk) dan mimbar.

Tahun 778 M: Khalifah Al-Mahdi membangun Baitul Mal (Kas Negara) di areal Masjid Agung Umayyah.

Tahun 1068-1069 M: Masjid Agung Umayyah hancur dilalap si jago merah, kecuali bagian temboknya.

Tahun 1082-1083 M: Masjid itu lalu dibangun kembali oleh pemimpin Dinasti Seljuk Tutuch dan Perdana Menteri Malik Shah.

Tahun 1166 M: Kebakaran kedua kembali terjadi menghancurkan gerbang bagian timur (Bab Jyrun).

Tahun 1174 M: Kembali terjadi kebakaran yang merusak menara bagian utara (Midhanat al-Arus).

Tahun 1202 M: Gempa bumi merusak bagian Masjid Umayyah.

Tahun 1206 M: Lantai halaman diperbaiki.

Tahun 1214 M: Lantai masjid ditutup dengan marmer.

Tahun 1216 M: Perbaikan kubah dilakukan.

Tahun 1247 M: Menara sebelah tenggara hancur dilalap si jago merah dan diperbaiki dua tahun kemudian.

Tahun 1326-1328 M: Dinding bagian barat Masjid dibangun kembali dan dihiasi dengan mozaik.

Tahun 1401 M: Dinasti Mughal menginvansi Damaskus. Halaman masjid dijadikan tempat penyimpanan senjata berat. Seluruh masjid dijadikan barak tentara.

Tahun 1479 M: Kebakaran kembali terjadi dan menghancurkan menara sebelah barat, Bab Al-Ziyada, dan Bab Al-Barid.

Abad ke-17 M : Menara Nabi Isa AS dibangun kembali.
Tahun 1904-1910 M: Masjid Agung Umayyah kembali dibangun dengan megah. Tiang-tiang dan kubah diganti. N hri


Arsitektur di Era Kekhalifahan Umayyah

Selama 89 tahun berkuasa, Dinasti Umayyah (661-750) mampu memperluas wilayah kekuasaan Islam. Kekhalifahan Umayyah yang berpusat di Damaskus, Suriah, mengatur wilayah kekuasaannya hingga ke Tashken di wilayah timur dan hingga wilayah pegunungan Pyrenee di sebelah barat. Kekhalifahan Umayyah sudah mampu mengatur pemerintahan dan perdagangan.

Ditopang perekonomian yang kuat, Dinasti Umayyah telah mampu melakukan pembangunan. Di era inilah mulai dibangun Masjid Kubah Batu (Dome of Rock) di Yerusalem dan Masjid Agung di Damaskus yang dikenal dengan nama Masjid Agung Umayyah. Periode kejayaan Umayyah ditandai dengan pencapaian dalam bidang arsitektur. Dikuasainya wilayah Irak, Iran, dan Suriah oleh umat Islam berkontribusi dalam perkembangan seni dan arsitektur.

Dinasti Umayyah telah memberi peran dan pengaruh yang besar dalam arsitektur Masjid. Pada 673 M, Muawiyah pemimpin pertama Dinasti Umayyah mulai memperkenalkan menara. Menara masjid pertama dibangun pada Masjid Amr Ibn-Al-Ash. Di masjid itu, ia membangun empat menara sebagai tempat untuk mengumandangkan adzan.

Dalam proses pembangunan Masjid Agung Umayyah, dinasti ini juga mulai memperkenalkan sejumlah teknik arstitektur baru khas Islam. Salah satunya adalah lengkungan pada arsitektur masjid. Pada era kekuasaan Dinasti Umayyah yang ditandai dengan kemakmuran juga diperkenalkan elemen-elemen fungsional dan struktural utama dalam arsitektur masjid, seperti menara, mihrab, maksurah, dan kubah.

Seni dekorasi juga mulai berkembang menjadi seni Islami melalui penggunaan kalgrafi dengan tulisan indah kufi. Kaca mozaik juga mulai diperkenalkan pada masa itu. Setelah ditumbangkan Dinasti Abbasiyah pada 750 M, Dinasti Umayyah juga turut membangun sederet karya arsitektur monumental di Spanyol. Hingga kini, karya arsitektur peninggalan Dinasti Umayyah masih mengagumkan.



Penulis : hri
REPUBLIKA - Selasa, 16 September 2008
http://koran.republika.co.id/berita/38848/Simbol_Kejayaan_Peradaban_Islam

Taqi Al-Din Ilmuwan Agung di Abad XVI

''Ilmuwan terbesar di muka bumi.'' Begitulah Kekhalifahan Usmani Turki di abad ke-16 M menjuluki saintis Muslim serbabisa ini. Pada era itu, tak ada ilmuwan di Eropa yang mampu menandingi kehebatannya. Ia adalah seorang tokoh ilmu pengetahuan fenomenal yang menguasai berbagai disiplin ilmu.

Ia tak hanya dikenal sebagai seorang saintis legendaris. Ilmuwan Muslim kebanggaan Kerajaan Ottoman itu juga termasyhur sebagai seorang astronom, astrolog, insinyur, inventor, fisikawan, matematikus, dokter, hakim Islam, ahli botani, filsuf, ahli agama, dan guru madrasah. Dunia ilmu pengetahuan modern juga mengakuinya sebagai ilmuwan yang sangat produktif.


Tak kurang dari 90 judul buku dengan beragam bidang kajian telah ditulisnya. Sayangnya, hanya tinggal 24 karya monumentalnya yang masih tetap eksis. Sederet penemuannya juga sungguh sangat menakjubkan. Pencapaiannya dalam berbagai temuan mampu mendahului para ilmuwan Barat.

Jauh sebelum Giovani Branca pada 1629 M menemukan tenaga uap air, sang ilmuwan Muslim ini dalam bukunya berjudul, Al-Turuq al-samiyya fi al-alat al-ruhaniyya, telah lebih dulu memaparkan cara kerja mesin uap air dan turbin uap air. Pada 1559 M, pamor saintis Muslim ini juga kian melambung lewat temuannya, yakni pompa six-cylinder 'Monobloc'.

Beragam jam yang amat akurat juga telah diciptakannya. Jam alarm mekanis pertama merupakaan buah karyanya. Ia juga menemukan jam pertama yang diukur dengan menit dan detik. Pada 1556 M hingga 1580 M, sang ilmuwan juga menemukan teleskop yang baru dikenal peradaban Barat pada abad ke-17 M. Sebagai seorang astronom, dia mendirikan Observatorium Istanbul pada 1577 M.

Ilmuwan Muslim agung dari abad XVI itu bernama lengkap Taqi Al-Din Abu Bakar Muhammad bin Zayn Al-Din Maruf Al-Dimashqi Al-Hanafi. Namun, sang ilmuwan itu termasyhur dengan nama panggilan Taqi Al-Din Al-Rasid. Taqi Al-Din terlahir pada 1521 M di Damaskus, Suriah. Ia mengabdikan dirinya untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Kekhalifahan Usmani Turki.

Guru pertama Taqi Al-Din adalah ayahnya sendiri. Dari sang ayah, ia menimba ilmu agama Islam. Setelah dianggap memiliki fondasi agama yang kuat, sang ayah mengirimkannya untuk belajar ilmu pengetahuan umum di Damaskus dan Mesir. Ia mempelajari matematika dari Shihab Al-Di-n Al-Ghazzi. Sedangkan, guru astronominya yang paling berpengaruh adalah Muhammad bin Abi Al-Fath Al-Sufi.

Matematika merupakan ilmu yang paling membetot perhatiannya saat masih belajar. Kesukaannya kepada ilmu berhitung itu diungkapkan Taqi Al-Din dalam kata pengantar beragam buku yang ditulisnya. Setelah menamatkan pendidikannya, ia mengajar di madrasah di Damaskus.

Sekitar tahun 1550 M, ia bersama ayahnya, Maruf Efendi, bertandang ke Istanbul--ibu kota pemerintahan Ottoman Turki. Selama berada di kota itu, Taqi Al-Din menjalin hubungan dengan para ilmuwan Turki, seperti Chivi-zada, Abu al-Su`ud, Qutb al-Di-n-zada Mahmad, dan Sajli Amir. Tak lama kemudian, ia kembali lagi ke Mesir dan mengajar di Madrasah Shayhuniyya dan Surgatmishiyya di kota itu.

Taqi Al-Din sempat mengunjungi Istanbul untuk waktu yang tak terlalu lama. Di kota itu, ia sempat dipercaya untuk mengajar di Madrasah Edirnekapi Madrasa. Saat itu, Perdana Menteri Kerajaan Usmani Turki dijabat Sami-z Ali Pasha. Selama mengajar di Madrasah Edirnekapi, Taqi Al-Din menggunakan perpustakaan pribadi Ali Pasha dan koleksi jamnya untuk penelitian.

Ketika Ali Pasha diangkat sebagai gubernur Mesir, Taqi Al-Din juga kembali ke negeri Piramida itu. Di Mesir, Taqi Al-Din diangkat sebagai hakim atau qadi serta mengajar di madrasah. Selama tinggal di Mesir, Taqi Al-Din tercatat menghasilkan beberapa karya dalam bidang astronomi dan matematika.

Pada era kekuasaan Sultan Selim II, sang ilmuwan diminta untuk mengembangkan pengetahuannya dalam bidang astronomi oleh seorang hakim di Mesir, yakni Kazasker Abd al-Karim Efendi dan ayahnya Qutb Al-Din. Bahkan, Qutb Al-Din menghibahkan kumpulan karya-karyanya beserta beragam peralatan astronomi. Sejak itulah, ia mulai konsisten mengembangkan astronomi dan matematika.

Sejak itu pula ia resmi menjadi astronom resmi Sultan Selim II pada 1571 M. Ia diangkat sebagai kepala astronom kesultanan (Munajjimbashi) setelah wafatnya Mustafa bin Ali Al-Muwaqqit--kepala astronom terdahulu. Taqi Al-Din juga dikenal supel dalam pergaulan. Ia mampu menjalin hubungan yang erat dengan para ulama dan pejabat negara.

Pemerintahan Usmani Turki mengalami perubahan kepemimpinan ketika Sultan Selim II tutup usia. Tahta kesultanan akhirnya diduduki Sultan Murad III. Kepada sultan yang baru, Taqi Al-Din mengajukan permohonan untuk membangun observatorium yang baru. Ia menjanjikan prediksi astrologi yang akurat dengan berdirinya observatorium baru tersebut.

Permohonan itu akhirnya dikabulkan Sultan Murad III. Proyek pembangunan Observatorium Istanbul dimulai pada 1575 M. Dua tahun kemudian, observatorium itu mulai beroperasi. Taqi Al-Din menjabat sebagai direktur Observatorium Istanbul. Dengan kucuran dana dari Kerajaan Ottoman, observatorium itu bersaing dengan observatorium yang ada di Eropa, khususnya Observatorium Astronomi Raja Denmark.

Di observatorium itu, Taqi Al-Din pun memperbarui tabel astronomi yang sudah tua peninggalan Ulugh Beg. Observatorium itu pun mampu menjelaskan tentang pergerakan planet, matahari, bulan, dan bintang. Suatu saat, Taqi Al-Din menyaksikan sebuah komet. Ia pun lalu memperkirakan munculnya komet itu sebagai pertanda kemenangan bagi pasukan tentara Usmani Turki yang tengah bertempur.

Namun, ternyata prediksinya itu meleset. Sultan pun memutuskan untuk menghentikan kucuran dana operasional observatorium. Observatorium itu pun dihentikan pada 1580 M. Sejak saat itulah pemerintah Usmani mengharamkan astrologi. Selain alasan agama, konflik politik juga menjadi salah satu pemicu ditutupnya observatorium itu.

Meski begitu, astronomi bukanlah satu-satunya bidang yang dikembangkan Taqi Al-Din. Ia juga berhasil menemukan berbagai teknologi serta karya dalam disiplin ilmu lainnya. Hingga kini, namanya tetap melegenda dan dikenang sebagai seorang ilmuwan serbabisa yang hebat pada zamannya.


Adikarya sang ilmuwan

Selama hidupnya, Taqi Al-Din telah memberi kontribusi yang begitu besar bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dr Salim Ayduz, peneliti senior pada Foundation for Science Technology and Civilisation di Inggris dalam tulisannya berjudul, Taqi- al-Di-n Ibn Ma'ruf: A Bio-Bibliographical Essay, memaparkan secara teperinci adikarya sang ilmuwan. Berkiut ini sumbangan yang diberikan Taqi Al-Din bagi peradaban modern:

1. Penemuan peralatan observatorium
- Sextant (mushabbaha bi-'l mana-tiq): Digunakan untuk mengukur jarak antara bintang. Sextant yang diciptakan Taqi Al-Din diyakini sebagai pencapaian terbesar dalam bidang astronomi pada abad ke-16 M. Taqi Al-Din menggunakan alat itu untuk mengukur jari-jari lingkaran Venus, seperti yang disebutkan Ptolemeus dalam bukunya, Almagest.
- Dhat Al-awtar: Penanda lama waktu malam dan siang dan malam pada musim semi dan gugur.
- Jam astronomi: Taqi Al-Din menggunakan jam mekanik yang dibuatnya sendiri untuk observasi. Ia membuat jam astronomi di observatorium yang dipimpinnya.

2. Matematika
- Kita-b al-nisab al-mutasha-kkala fi- 'l-jabr wa-'l-muqa-bala: Buku yang mengupas tentang rasio dalam aljabar. Buku ini ditulis di Kairo.
- Bughyat al-tulla-b fi- `ilm al-hisa-b: Buku ini membahas tentang tujuan para pelajar mempelajari Ilmu aritmatika.
- Kita-b tastih al-ukar: Buku itu ditulis Taqi Al-Din dan dipersembahkan bagi Hoca Sa'dettin Efendi.
- Sharh risalat al-Tajni-s fi- 'l-hisab: Berisi tentang klasifikasi dalam aritmatika.
- Risa-la fi- tahqi-qi ma- qa-lahu 'l-'alim Giyathuddin Jamsid fi- bayani 'l-nisba bayna 'l-muhi-t wa-'l-qutr.
- Tahri-r Kita-b al-ukar li-Thawudhusiyus.

3. Buku astronomi
Buah karyanya yang paling banyak adalah astronomi. Dalam bidang ini, Taqi Al-Din menulis sederet buku, antara lain:

- Rayhanat al-ruh fi- rasm al-sa'at `ala mustawa al-suth. Berisi tentang sejarah penulisan astronomi pada periode Ottoman.
- Jaridat al-durar wa khari-dat al-fikar: Berisi tabel sinus dan tangen dalam pecahan desimal.
- Kitab al-thimar al-yani'a `an qutaf al-ala al-jami'a.
- Manzu-mat al-mujayyab.
- Sidrat muntaha al-afkar fi- malaku-t al-falak al-dawwar.
- Kitab fi ma'rifat wad' al-sa'at.
- Al-Abya-t al-tis'a fi- istihraj al-tawarikh al-mashhura wa-sharhuha.
- Revision of the Zi-j of Ulugh Beg: mentioned in Kashf al-Zunun.
- Treatise on the Azimuth of the Qibla (Risa-lat samt al-Qibla).
Serta sederet buku astronomi lainnya.

4. Mekanik
- Al-Kawa-kib al-durriyya fi- wadh' al-banka-mat al-dawriyya: Membahas tentang pembuatan jam mekanik. Buku ini disusun di Nablus (sekarang Palestina) pada 1559 M. Dalam prakatanya, dia menuturkan penulisan buku itu memanfaatkan perpustakaan pribadi Ali Pasha dan koleksi jam mekanik Eropa yang dimilikinya.
- Fi- `ilm al-binkamat.
- Al-Turuq al-saniyya fi'l-alat al-ruhaniyya: Memaparkan cara kerja mesin uap air dan turbin uap air. Buku ini ditulis di Kairo pada 1551 M.
- Risala fi- `amal al-mi-zan al-tabi'i: Membahas tentang berat dan cara pengukuran serta menjelaskan skala archimides.

5.Optik
- Kitab Nu-r hadaqat al-ibsa-r wa-nur haqi-qat al-anzar: Buku ini berisi tentang bagaimana mata melihat. Selain itu, buku ini juga membahas refleksi dan reflaksi cahaya. Mengkaji pula hubungan antara cahaya dan warna. Buku ini didedikasikan Taqi Al-Din khusus untuk Sultan Murad III.

6. Bidang lainnya
- Al-Masa-bih al-muzhira fi- `ilm al-bazdara: Tentang zoologi.
- Tarjuma-n al-atibba' wa-lisan al-alibba': Kamus botani.
http://buntetpesantren.org/index2.php?option=com_content&task=emailform&id=1184
http://koran.republika.co.id/koran/36/2433/Taqi_Al_Din_Ilmuwan_Agung_di_Abad_XVI

Arsitektur di Era Kekhalifahan Umayyah

Selama 89 tahun berkuasa, Dinasti Umayyah (661-750) mampu memperluas wilayah kekuasaan Islam. Kekhalifahan Umayyah yang berpusat di Damaskus, Suriah, mengatur wilayah kekuasaannya hingga ke Tashken di wilayah timur dan hingga wilayah pegunungan Pyrenee di sebelah barat. Kekhalifahan Umayyah sudah mampu mengatur pemerintahan dan perdagangan. Ditopang perekonomian yang kuat, Dinasti Umayyah telah mampu melakukan pembangunan. Di era inilah mulai dibangun Masjid Kubah Batu ( Dome of Rock) di Yerusalem dan Masjid Agung di Damaskus yang dikenal dengan nama Masjid Agung Umayyah. Periode kejayaan Umayyah ditandai dengan pencapaian dalam bidang arsitektur. Dikuasainya wilayah Irak, Iran, dan Suriah oleh umat Islam berkontribusi dalam perkembangan seni dan arsitektur.

Dinasti Umayyah telah memberi peran dan pengaruh yang besar dalam arsitektur Masjid. Pada 673 M, Muawiyahpemimpin pertama Dinasti Umayyah–mulai memperkenalkan menara. Menara masjid pertama dibangun pada Masjid Amr Ibn-Al-Ash. Di masjid itu, ia membangun empat menara sebagai tempat untuk mengumandangkan adzan.

Dalam proses pembangunan Masjid Agung Umayyah, dinasti ini juga mulai memperkenalkan sejumlah teknik arstitektur baru khas Islam. Salah satunya adalah lengkungan pada arsitektur masjid. Pada era kekuasaan Dinasti Umayyah yang ditandai dengan kemakmuran juga diperkenalkan elemen-elemen fungsional dan struktural utama dalam arsitektur masjid, seperti menara, mihrab, maksurah, dan kubah.

Seni dekorasi juga mulai berkembang menjadi seni Islami melalui penggunaan kalgrafi dengan tulisan indah kufi. Kaca mozaik juga mulai diperkenalkan pada masa itu. Setelah ditumbangkan Dinasti Abbasiyah pada 750 M, Dinasti Umayyah juga turut membangun sederet karya arsitektur monumental di Spanyol. Hingga kini, karya arsitektur peninggalan Dinasti Umayyah masih mengagumkan
http://tonyoke.wordpress.com/category/dunia-islam/arsitektur-di-era-kekhalifahan-umayyah/
http://koran.republika.co.id/koran/36/3215/Arsitektur_di_Era_Kekhalifahan_Umayyah

Jumat, 26 November 2010

Peradaban Islam Perintis Geologi Modern

Menelusuri sumbangan peradaban Islam di era keemasan terhadap ilmu pengetahuan seakan tak pernah ada habisnya. Di zaman kejayaannya, para ilmuwan Muslim ternyata telah berjasa mengembangkan geologi modern: sebuah cabang ilmu alam yang mempelajari bumi, komposisinya, struktur, sifat-sifat fisik, sejarah, dan proses asal mula terbentuknya bumi serta sejarah perkembangannya.

Geologi mendapat perhatian penting dari para ilmuwan Muslim di zaman kekhalifahan. Sebab, studi tentang bumi itu memiliki kegunaan dan manfaat yang sangat tinggi. Geologi mampu membantu peradaban manusia dalam menemukan dan mengatur sumber daya alam yang ada di bumi, seperti minyak bumi, batu bara, dan juga metal, seperti besi, tembaga, emas, dan uranium.

Selain itu, studi yang dikembangkan para saintis Islam itu juga sangat membantu dalam menemukan zat mineral lainnya yang memiliki nilai ekonomi, seperti asbestos, perlit, mika, fosfat, zeolit, tanah liat, pumis, kuarsa, dan silika serta elemen lainnya, termasuk belerang, klorin, dan helium. Sejak era kekhalifahan, umat Islam telah mampu menemukan ladang minyak, besi, emas, dan lainnya.

Ilmuwan Barat, Fielding H Garisson, menyatakan bahwa studi geologi modern dimulai pada era kekhalifahan. Dalam bukunya yang berjudul History of Medicine, Garisson mengatakan, "Umat Islam di abad pertengahan tak hanya mengawali berkembangnya aljabar, kimia, dan geologi, tapi juga telah meningkatkan dan memuliakan peradaban."

Abdus Salam (1984) dalam Islam and Science menyatakan bahwa Abu Al Raihan Al Biruni (973-1048 M) merupakan geolog Muslim perintis yang berjasa mendirikan studi geologi modern. Secara mendalam, ilmuwan Muslim abad ke-11 M itu menulis geologi India. Al Biruni melontarkan sebuah hipotesis bahwa anak benua India awalnya adalah sebuah lautan.

''Jika Anda melihat tanah India dengan mata sendiri dan mengamati alamnya, sebenarnya daratan India awalnya adalah laut,'' papar Al Biruni dalam Book of Coordinates. Ia juga menuturkan, keberadaan kerang dan fosil di wilayah negeri Hindustan menunjukkan kawasan itu adalah lautan yang kemudian meningkat menjadi daratan kering.

Berdasarkan penemuannya itu, Al Biruni menyatakan bahwa bumi secara konstan mengembang. Temuannya itu memperkuat pandangan Islam yang menyatakan bahwa bumi tak kekal. Teori bumi tak kekal yang dilontarkan Al Biruni itu berlawanan dengan keyakinan ilmuwan Yunani Kuno yang berpendapat bahwa bumi itu kekal.

Al Biruni pun lalu menyatakan bahwa bumi juga memiliki usia. Pendapat sang ilmuwan Muslim di era kekhalifahan itu terbukti. Para geolog modern akhirnya membuktikan pendapat itu dengan menyatakan bahwa usia bumi yang diperkirakan sekitar 4,5 miliar (4,5x109) tahun.

Ilmuwan Muslim legendaris, Ibnu Sina (981-1037 M), juga turut memberi kontribusi yang amat penting bagi studi geologi. Avicenna--begitu masyarakat Barat biasa menyebutnya--menamakan geologi sebagai Attabieyat. Dalam bab lima ensiklopedia berjudul Kitab al Shifa, Ibnu Sina menjelaskan mineralogi dan meteorologi.

Selain itu, bab keenam Kitab Al-Shifa juga mengupas berbagai hal tentang bumi dan proses pembentukannya. Secara perinci dan lugas, Ibnu Sina membahas pembentukan gunung, manfaat gunung dalam pembentukan awan, sumber-sumber air, asal muasal gempa bumi, pembentukan mineral-mineral, serta keanekaragamaan lahan tanah di bumi.

Pemikiran Ibnu Sina tentang geologi ternyata sangat berpengaruh terhadap peradaban Barat. Berkat jasa Avicenna-lah masyarakat Barat kemudian mengenal hukum superposisi, konsep katastropisme (bencana besar), serta doktrin uniformitarianism. Buah pikir Ibnu Sina juga banyak memengaruhi ilmuwan Barat bernama James Hutton dalam mencetuskan Teori Bumi pada abad ke-18 M.

Secara terang-terangan, dua akademisi Barat bernama Toulmin dan Goodfield (1965) menjelaskan sumbangsih yang diberikan Ibnu Sina bagi studi geologi modern. "Sekitar abad ke-10 M, Avicenna telah melontarkan hipotesis tentang asal muasal bentangan gunung. Padahal, 800 tahun kemudian, pemikiran seperti itu masih dianggap radikal di dunia Kristen,'' papar Toulim dan Goodfield.

Tak cuma itu, metodologi ilmiah serta observasi lapangan yang dikembangkan Ibnu Sina hingga kini masih tetap menjadi bagian yang penting dalam investigasi geologi modern. Studi geologi juga sebenarnya secara lusa tercantum dalam Alquran. Dalam surat Alhijr ayat 19, Allah SWT berfirman, "Dan, Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran."

Dalam surat Annahl ayat 15, Sang Khalik juga berfirman, "Dan, Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu. (Dan, Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk." Ayat-ayat inilah yang kemungkinan memberi inspirasi bagi para ilmuwan Muslim untuk mengkaji studi geologi.

Sumbangan lainnya yang didedikasikan ilmuwan Muslim untuk studi geologi adalah penemuan kristalisasi dalam proses pemurnian. Terobosan penting yang dilakukan Jabir Ibnu Hayyan--saintis pada abad ke-8 M--itu sangat penting dalam kristalogi. Bapak Sejarah Sains, George Sarton, menegaskan bahwa Jabir Ibnu Hayyan juga turut berkontribusi dalam geologi.

"Kami menemukan dalam tulisannya (Jabir) pandangan tentang metode penelitian kimia, sebuah teori pembentukan logam pada lapisan tanah, " papar Sarton. Dalam risalah yang ditulisnya, papar Sarton, Jabir Ibnu Hayyan menyatakan bahwa pada dasarnya terdapat enam logam yang berbeda, akibat adanya perbedaan perbandingan sulfur dan merkuri pada keenam jenis logam itu.

Bila kita simak secara teliti, studi geologi mendapat perhatian dalam Alquran. Selain banyak memaparkan gunung, ayat suci Alquran juga membahas tanah. Dalam surat Al A'raaf ayat 58, Allah SWT berfirman, "Dan, tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah. Dan, tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur."

Dalam ayat lainnya, Alquran juga menjelaskan adanya kandungan penting dalam tanah. "Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang ada di antara keduanya dan semua yang ada di bawah tanah." (QS Thaahaa: ayat 6). Allah SWT juga berfirman dalam surat Alkahfi ayat 41, "Atau, airnya menjadi surut ke dalam tanah. Maka, sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi."Demikianlah bukti nyata bahwa Alquran sangat mendorong umat Islam untuk mengembangkan sains. heri ruslan


Karya Para Ilmuwan Muslim untuk Geologi

Pada era keemasan, begitu banyak ilmuwan Muslim yang mengkaji studi geologi. Menurut Guru Besar Universitas Yordania, Prof Abdulkader M Abed, para saintis Islam itu mengkaji tema-tema khusus, seperti mineral, batu-batuan, serta permata. Sayangnya, kebanyakan risalah itu banyak yang hilang dan tak eksis lagi. Berikut ini adalah para ilmuwan yang risalah pentingnya masih tersisa.

Yahya bin Masawaih (wafat 857 M) menulis permata dan kekayaannya.Al Kindi (wafat 873 M) menulis tiga risalah. Salah satu karyanya yang terbaik berjudul Gems and The Likes.Al Hasan bin Ahmad Al Hamdani (334 H) menulis tiga buku mengenai metode eksplorasi emas, perak, permata, dan bahan mineral lainnya. Ikhwaan As Safa (pertengahan abad ke-4 H) menulis ensiklopedia yang berisi bagian-bagian minelar serta klasifikasinya.

Abu Ar Rayhan Mohammad bin Ahmad Al Biruni (wafat 1048 M) adalah ahli mineralogi terhebat sepanjang sejarah peradaban Islam. Selain menulis Book of Coordinates, dia juga menyusun buku berjudul Al Jamhir fi Ma'rifatil Al Jawahir yang mengupas cara mengenali permata. Buku itu dinilai sebagai kontribusi terbaik yang disumbangkan peradaban Islam bagi studi mineralogi.

Ahmad bin Yousef Al Tifashi menulis kitab Azhar Al Afkar fi Jawahir Al Ahjar yang berisi tentang cara mengenali batu-batu mulia. Mohammad bin Ibrahim Ibnu Al Akfani (wafat 1348 M) menulis buku berjudul Nukhab Al Thakhair fi Ahwaal Al Jawahir. Buku tersebut mengupas karakteristik batu-batu mulia. N hri


Mineralogi dalam Peradaban Islam

Para ilmuwan Muslim di abad ke-10 hingga 11 M banyak menaruh perhatian untuk meneliti dan menulis risalah tentang mineralogi. Studi mineralogi merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari geologi. Sebab, mineralogi merupakan cabang geologi yang berfokus pada sifat kimia, struktur kristal, dan fisika dari mineral.

Studi ini juga mencakup proses pembentukan dan perubahan mineral. Sekitar 10 abad yang lalu, para saintis Muslim sudah mampu mengidentifikasi beragam jenis mineral. Mereka mendedikasikan dirinya untuk mempelajari mineral. Al Biruni dikenal sebagai pakar mineralogi Muslim yang paling hebat dalam sejarah peradaban Islam.

Di zaman itu, para ilmuwan Islam sudah mampu menjelaskan komposisi kimia dan struktur kristal. Batu permata dan batu mulia dinilai para ilmuwan Muslim sebagai jenis mineral yang khusus. Intan, batu nilam, jamrud, serta yang lainnya digolongkan ke dalam mineral. Sejak zaman dahulu, batu-batu mulia itu menjadi lambang kemewahan raja-raja dan para wanita.

Sumbangan peradaban Islam dalam bidang mineralogi tak lepas dari keberhasilan umat Islam menguasai wilayah-wilayah penting, seperti Mesir, Mesopotamia, India, dan Romawi. Peradaban wilayah itu sebelumnya juga telah mengenal beragam jenis mineral, batu mulia, dan permata. Karya-karya terdahulu itu lalu dikembangkan dan diteliti lebih lanjut oleh para ilmuwan Muslim.

Penulis : hri
REPUBLIKA - Rabu, 10 September 2008
http://www.republika.co.id:8080/berita/38844/Peradaban_Islam_Perintis_Geologi_Modern

Industri Tinta di Dunia Islam

Belajar dan seni memainkan peranan penting dalam sebuah peradaban. Apalagi, di era keemasan Islam, kedua bidang itu mendapat perhatian yang sangat besar dari para khalifah, ilmuwan, seniman, dan masyarakat Muslim. Salah satu faktor yang telah mendorong berkembangnya ilmu pengetahuan dan seni rupa di dunia Islam adalah tersedianya tinta dan zat warna. Tinta dan zat warna merupakan bahan yang sangat penting untuk menopang aktivitas keilmuan dan seni rupa.

Karena itulah, umat Muslim di zaman kekhalifahan memberi perhatian khusus terhadap ketersediaan tinta dan zat warna. Perkembangan industri tinta dan zat warna direkam secara khusus oleh Al-Muzz Ibnu Badis (wafat 416 H/1025 H) dalam bukunya bertajuk, Umdat Al-Kuttab (Buku tentang Keahlian Menulis dan Peralatan Orang-orang Arif). Peradaban Islam memang bukanlah yang pertama menemukan tinta dan zat warna.

Menurut catatan sejarah, perabadan Cina telah menemukan tinta untuk menghitam - kan permukaan gambar dan tulisan yang terpahat pada batu sekitar 5.000 tahun yang lalu. Mereka membuat tinta dari campuran jelaga dari asap kayu cemara, lampu minyak, dan jelatin dari kulit binatang serta darah yang dibekukan. Ada pula yang menyebutkan, tinta telah digunakan peradaban India Kuno pada abad ke-4 SM. Hal itu terungkap dari sebuah naskah kuno India, Kharosthi, yang ditemukan para arkeolog di wilayah Turkistan Cina, sekarang Provinsi Xinjiang. ‘’Resep pembuatan tinta telah ditemukan 1.600 tahun lalu,’‘ ungkap Sharon J Hutington.

Will Kwiatkowski dalam bukunya berjudul, Ink and Gold: Islamic Calligraphy, menuturkan, produksi tinta di dunia Islam telah dimulai pada 1.000 tahun yang lalu. Pada masa itu, tinta digunakan untuk menulis kaligrafi. Produksi tinta sama pesatnya dengan pencapaian dunia Islam di bidang seni kaligrafi. Produksi tinta berkembang di setiap kekhalifahan, seperti Abbasiyah (749-1258), Seljuk (1055- 1243), Safawiyah (1520-1736), dan Mughal (1526-1857).

Ahmad Y Al-Hassan dan Donald R Hill dalam bukunya bertajuk, Islamic Technology:An Ilustrated History, mengungkapkan, di era kejayaannya Peradaban Muslim telah mampu memproduksi tinta hitam. Pada masa itu, terdapat dua tipe utama tinta permanen. Pertama, tinta permanen yang dihasilkan dari partikel-partikel halus karbon dan kedua adalah tinta hitam yang berasal dari besi tanat. Menurut Al-Hassan dan Hill, karbon untuk tinta hitam diperoleh dari jelaga berbagai minyak dan lemak, seperti minyak biji rami dan minyak bumi, atau arang giling yang dibuat dari berbagai biji-bijian.

Cara membuat tinta di masa itu begitu khas. Salah satu cara membuat tinta dari jelaga, papar Al-Hassan, dengan menggunakan lampu empat sumbu untuk membakar minyak biji rami. Pada bagian atas lampu, terdapat penutup berbentuk kubah dengan sebuah lubang dan di atasnya terdapat lagi enam penutup serupa membentuk cerobong. Sumbu dinyalakan dan minyak terbakar habis, kemudian jelaga yang terkumpul di dalam cerobong dikumpulkan menggunakan bulu. Selanjutnya, jelaga itu diayak hingga didapat serbuk yang halus.

Pembuatan tinta permanennya juga ada yang menggunakan gom Arab (diperoleh dari tumbuhan sejenis akasia) sebagai bahan pengikat, walaupun glair (dibuat dari kocokan putih telur) dapat dijadikan alternatif. ‘’Tinta lain juga dijabarkan dalam manuskrip Arab, di antaranya tinta biruhitam yang didapatkan dari biji-bijian tertentu dan ferro sulfat yang masih digunakan hingga kini,’‘ ungkap Al-Hassan dan Hill. Zat Warna Dalam bukunya berjudul, Keahlian Menulis dan Peralatan Orang-orang Arif, Ibnu Badis juga mengungkapkan keberhasilan umat Islam dalam memproduksi tinta berwarna, cat minyak, dan pernis.

Zat warna seperti ini digunakan dengan pena atau sikat dan digunakan untuk menulis, melukis miniatur pada kertas, kulit, kayu, dan permukaan-permukaan lain. Ibnu Badis, seperti dikutip Al-Hassan dan Hill, memaparkan, pewarna hitam berasal dari karbon yang diperoleh dari jelaga lampu atau arang khusus seperti yang di te - rangkan sebelumnya. ‘’Pewarna putih dihasilkan dari timah (isfidaj), bahkan terkadang dicampur dengan putih tulang,’‘ paparnya. Lalu bagaimana dengan pewarna merah? Menurut Al-Hassan dan Hill, pewarna me - rah yang ditemukan dunia Islam terdapat dalam berbagai nuansa. Unsur pokoknya adalah cinabar (zanifar), kristal merkuri sulfida dan timah merah (isribj) terkadang juga digunakan lempung batu besi yang mengandung lapisan merah.

Lac, resin berwarna merah gelap yang ditanamkan ke batang pohon tertentu oleh serangga lac (laccifer lacca), juga diproses untuk pewarna ini dan petunjuk rinci pembuatannya banyak dipublikasikan. Sementara itu, pewarna kuning diproduksi terutama dari orpiment (zarnikh ashfa) arsenik trisulfida. Menurut naskah Arab, massicot (timah monoksida) sebagaimana saffron bisa digunakan bersama zat warna lain.

Menurut Al-Hassan dan Hill, pewarna biru didapat dari mineral lapis-lazuli. Selain itu, azurit (suatu bentuk tembaga karbonat) dan indigo juga digunakan sebagai pewarna biru. Pewarna hijau diperoleh dari verdigris tembaga karbonat basa (zinjar) dan dari mineral malasit. Untuk nuansa hijau yang lain, termasuk warna tanaman, dibuat dengan mencampur berbagai zat warna. Untuk zat warna cair, kata Al-Hassan dan Hill, dibutuhkan media pengikat yang biasanya dicampurkan dengan zat warna. Pengikat yang paling umum adalah goam Arab. Selain itu, juga digunakan pula pere - kat (terutama perekat kayu/besi) dan glair.

Pada masa itu, cat minyak digunakan untuk menggambar miniatur di buku-buku dan untuk melapisi suatu permukaan seperti kayu. Sebuah manuskrip abad ke-16 M mencatat proses pembuatan cat dan teknik pemakaiannya. Untuk membuat cat minyak, dibutuhkan campuran larutan gom resin sandarak dengan minyak biji rami, kemudian ditambahkan zat warna bersama su ling - an nafta. Semua bahan-bahan itu dicampurkan dan dilarutkan dengan cara dikocok. Selain itu, peradaban Islam juga tercatat berhasil menciptakan pernis. Larutan ini diproduksi untuk melindungi lukisan. Pernis dibuat dengan cara menambahkan pelarut nafta (minyak tahan putih) ke dalam campuran kental sandarak dan mi - nyak biji rami. Larutan itu kemudian di la - burkan ke permukaan yang ingin dilin du- ngi. Begitulah, peradaban Islam memproduksi tinta dan zat warna yang penting dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan seni rupa.


Tinta dan Zat Warna Penopang Sains dan Seni

Berkembangnya industri tinta tent - unya berdampak ke bidang lainnya yang berkaitan dengan penggunaan tinta, seperti buku, seni lukis, maupun hiasan tembikar. Dengan adanya tinta, karya- karya tersebut semakin maju pesat. Seni lukis Seni rupa mulai berkembang pesat di dunia Islam mulai abad ke-7 M, salah satunya mencakup seni lukis. Pada abad tersebutlah agama Islam semakin melebarkan sayapnya. Islam tak hanya memasuki wilayah Semenanjung Arab, tapi masuk pula ke Bizantium, Persia, Afrika, Asia, bahkan Eropa.

Para arkeolog dan sejarawan menemukan adanya lukisan dinding, lukisan kecil di atas kertas yang berfungsi sebagai gambar ilustrasi pada buku. Salah satu bukti bahwa umat Islam mulai terbiasa dengan gambar makhluk hidup pa - ling tidak terjadi pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah (661 M -750 M) di Damaskus, Suriah. Hal itu dapat disaksikan dalam lukisan yang terdapat pada Istana Kecil Qusair Amrah yang dibangun pada 724 M hingga 748 M.

Buku Sejak peradaban Islam menguasai teknologi pembuatan kertas dan teknologi pembuatan tinta, aktivitas penulisan buku di akhir abad ke-8 M kian menggeliat. Hal itu terbukti dengan banyaknya jumlah buku yang terbit di era kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Pada era itu, minat baca manusianya pun tinggi sehingga setiap orang berlomba membeli dan mengoleksi buku. Ziauddin Sardar dan MW Davies dalam bukunya berjudul, Distorted Imagination, menggambarkan penerbitan buku di dunia Islam 10 abad silam, hampir setara dengan pencapain peradaban Barat saat ini, baik secara kualitas maupun kuantitas.

Hampir 1.000 tahun sebelum buku hadir di peradaban Barat, industri penerbitan buku telah berkembang pesat di dunia Islam, paparnya. Tembikar Seni pembuatan tembikar atau keramik merupakan salah satu keahlian yang dimiliki para seniman Muslim di era kejayaan. Hampir di setiap wilayah kekuasaan Islam, beragam seni rupa berkembang pesat. Hal ini menandakan bahwa peradaban umat Muslim di zaman itu mengalami masa keemasan. Keramik atau tembikar yang diproduksi para seniman Muslim pun dikenal sangat berkualitas tinggi.

Para seniman Muslim di era kekhalifahan telah membuat beragam bentuk lantai keramik yang digunakan untuk menghiasi dinding dan lantai. Tak cuma itu, para seniman pun membuat beragam barang kebutuhan sehari-hari, seperti cangkir, gelas, piring, mangkuk, botol, dan penampung air dari tembikar. Salah satu faktor yang membuat tembikar dan keramik Islam unik adalah bentuk dan hiasannya. Keramik dengan desain ukiran merupakan salah satu jenis produk yang banyak ditemukan di dunia Islam.

Produksi jenis keramik ini dimulai pada era kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Ciri-ciri keramik jenis ini memiliki desain geometris atau bentuk-bentuk flora yang dimasukkan dengan cara distempel. Keramik jenis ini dapat ditemukan di Samara, Irak, dan Fustat, Mesir. Tentunya, untuk membuat hiasan tembikar tersebut dibutuhkan tinta atau zat pewarna. Dengan demikian, hiasan tersebut menjadi lebih menarik.



Penulis : c63/desy susilawati
REPUBLIKA - Selasa, 27 Januari 2009
http://koran.republika.co.id/berita/41353/Industri_Tinta_di_Dunia_Islam

Imam Bukhari Cahaya dari Bukhara

Pada usia 18 tahun, secara khusus, Imam Bukhari mencurahkan pikiran dan waktunya untuk mengumpulkan, mempelajari, menyeleksi, dan meng atur ratusan ribu hadis yang dikuasai dan dihafalnya.

Amirul Mukminin fil Hadits, gelar itu didaulatkan para ulama kepada ahli hadis dari Kota Bukhara, Uzbekistan. Tak salah bila ulama besar di abad ke-9 M ini ditabalkan sebagai ‘Pemimpin Kaum Mukmin dalam Ilmu Hadis’. Betapa tidak, hampir seluruh ulama merujuk kitab kumpulan hadis sahih yang di - su sunnya.

Para ulama juga bersepakat, Al Jami’ as Sahih atau Sahih Al Bukharikumpulan hadis sahih sebagai kitab paling otentik setelah Alquran. Sahih Al Bukhari yang disusun ulama legendaris asal ‘kota lautan pengetahuan’Bukharaitu juga diya kini kalangan ulama Sunni sebagai literatur hadis yang paling afdol.

Sang ulama fenomenal itu mendedikasikan hidupnya untuk menyeleksi secara ketat ratusan ribu hadis yang telah dihafalnya sejak kecil. Karyanya yang sangat monumental itu bak cahaya yang telah menerangi perjalanan hidup umat Islam. Ribuan hadis sahih telah dipilihnya menjadi pedoman hidup umat Islam, sesudah Alquran. Ulama besar dan ahli hadis nomor wahid ini memiliki nama lengkap Muhammad Ibnu Ismail Ibnu Ibrahim Ibnu Al Mughirah Ibnu Bardizbah Al Bukhari. Ia lebih dikenal dengan nama tanah kelahirannya, Bukhara. Dan, masyarakat Muslim pun biasa memanggilnya Imam Bukhari.

Pemimpin kaum Mukminin dalam ilmu hadis itu terlahir pada hari Jumat, 13 Syawal 194 H, bertepatan dengan 20 Juli 810 M. Sejak kecil, Imam Bukhari hidup dalam keprihatinan. Alkisah, ketika terlahir ke dunia, Bukhari cilik tak bisa melihat alias buta. Sang bunda tak putus dan tak tak pernah berhenti berdoa dan memohon kepada Allah SWT untuk kesembuhan penglihatan putranya.

Sang Khalik pun mengabulkan doadoa yang selalu dipanjatkan ibu Imam Bukhari. Secara menakjubkan, ketika menginjak usia 10 tahun, penglihatan bocah yang kelak menjadi ulama terpandang itu kembali normal. Imam Bukhari sudah akrab dengan ilmu hadis sejak masih belia. Sang ayah, Ismail Ibnu Ibrahim, juga seorang ahli hadis yang terpandang. Ismail merupakan salah seorang murid ulama terpandang, Hammad ibnu Zaid dan Imam Malik. Sang ayah tutup usia saat Imam Bukhari masih belia. Meski hidup sebagai seorang anak yatim yang serba pas-pasan, Bukhari cilik tak pernah putus asa. Ia menghabiskan waktunya untuk belajar dan belajar, tanpa merisaukan masalah keuangan.

Ilmu hadis telah membetot perhatiannya sejak kecil. Selain belajar Alquran dan pelajaran penting lainnya, ilmu hadis adalah favoritnya. Sejak penglihatannya menjadi normal, dia sudah membaca karya-karya atau kitab hadis yang ada. Bahkan, menginjak usia 16 tahun, Imam Bukhari sudah mampu menghafal karya-karya Waki dan Abdullah Ibnu Al Mubarak. ‘’Sekali saja ia membaca buku, dia sudah hafall isinya,’‘ papar Ibnu Katheer yang terkagum-kagum dengan daya ingat sang ahli hadis.

Daya ingat dan kecepatannya dalam menghafal sungguh tiada dua pada zamannya. Kekuatan intelektualnya sungguh sangat memukau dan menakjubkan. Pada usia 10 tahun, Imam Bukhari sudah mampu menghafal 70 ribu hadis. Tanpa bermaksud jemawa, Imam Bukhari sempat berkata, ‘’Saya hafal seratus ribu hadis sahih dan saya juga hafal dua ratus ribu hadis yang tidak sahih.’‘ Ia tak cuma mampu menghafal ratusan ribu hadis, namun juga mampu menyebutkan sanad dari setiap hadis yang diingatnya.

‘’Dia diciptakan Allah SWT seolaholah hanya untuk hadis,’‘ tutur Muhammad bin Abi Hatim mengutip perkataan Abu Ammar Al Husein bin Harits yang terkagum-kagum dengan daya ingat dan kecerdasan Imam Bukhari. Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah menilai, Imam Bukhari sebagai manusia di muka bumi yang paling kuat ingatannya dalam menghafal hadis.

Menginjak usia 16 tahun, Imam Bukahri bersama ibu dan saudaranya pergi menunaikan ibadah haji ke Makkah. Perjalanan pertamanya ke Semenanjung Arab itu dimanfaatkan untuk meningkatkan pengetahuannya tentang ilmu hadis. Imam Bukhari pun berkelana dari satu kota pusat pengetahuan ke kota lainnya. Di setiap kota, ia berdiskusi dan bertukar informasi tentang hadis dengan para ulama. Imam Bukhari sempat menetap di sejumlah kota pusat intelektual Muslim, seperti Basrah, Hijaz, Mesir, Kufah, dan Baghdad. Ketika tiba di kota Basrah, penguasa kota itu menyambut dan mendaulatnya untuk mengajar. Kedatangannya di Baghdadibu kota pemerintahan Kekhalifahan Abbasiyahjuga mendapat perhatian dari para ulama dan petinggi kota itu.

Sepuluh ulama hadis di kota itu pun mencoba menguji kemampuan dan daya ingatnya dalam menghafal sabda Rasulullah SAW. Para ulama itu lalu menukarkan sanad dari ratusan hadis. Dalam sebuah pertemuan, para ulama itu lalu menanyakan hadis-hadis yang telah ditukar-tukar sanad-nya itu. Namun, Imam Bukhari mengaku tak mengenal hadis yang ditanyakan para ulama Baghdad itu.

Lalu, ia membacakan hadis-hadis itu dengan sanad yang benar. Para ulama Baghdad pun terkagum-kagum dengan kecerdasan dan ketelitian sang ahli hadis. Ujian serupa juga dilakukan para ulama di berbagai kota yang disinggahinya. Dan, ujian itu berhasil dilaluinya dengan baik.

Pada usia 18 tahun, secara khusus, Imam Bukhari mencurahkan pikiran dan waktunya untuk mengumpulkan, mempelajari, menyeleksi, dan mengatur ratusan ribu hadis yang dikuasai dan dihafalnya. Demi memurnikan dan mencapai hadis-hadis yang paling otentik dan sahih, ia berkelana ke hampir seluruh dunia Islam, seperti Mesir, Suriah, Arab Saudi, serta Irak.

Dengan penuh kesabaran, ia mencari dan menemui para periwayat atau perawi hadis dan mendengar langsung dari mereka. Tak kurang dari 1.000 perawi hadis ditemuinya. Hingga kahirnya, Imam Bukahri menguasai hampir lebih dari 600 ribu hadis, baik yang sahih maupun dhaif. Perjalanan mencari dan menemukan serta membuktikan kesahihan hadis-hadis itu dilakukannya selama 16 tahun.

Setelah sekian lama mengembara, ia lalu kembali ke Bukhara dan merampungkan penysunan kitab yang berisi kumpulan hadis sahih berjudul Al Jami’ Al Sahih. Kitab hadis yang menjadi rujukan para ulama itu berisi 7.275 hadis sahih. Pada usia 54 tahun, dia berkunjung ke Nishapur, sebuah kota di Asia Tengah. Di kota itu, Imam Bukhari diminta untuk mengajar hadis. Salah seorang muridnya adalah Imam Muslim yang juga terkenal dengan kitabnya Sahih Muslim.

Imam Bukhari lalu hijrah ke Khartank, sebuah kampung di dekat Bukhara. Para penduduk desa memintanya untuk tinggal di tempat itu. Imam Bukhari pun tinggal di Desa Khartank hingga tutup usia pada usia 62 tahun. Ia meninggal dunia pada tahun 256 H/ 870 M. Meski telah meninggal 13 belas abad yang lalu, namun cahaya dari Bukhara itu tak pernah padam dan terus menerangi kehidupan umat Muslim.

Metode Seleksi Hadis Ala Imam Bukhari
Imam Bukhari pantas disebut sebagai ilmuwan dan ulama yang profesional. Betapa tidak. Dalam meneliti, menyeleksi, serta menetapkan hadis sahih dari ratusan ribu hadis yang dihafalnya, Imam Bukhari melakukannya dengan sangat hati-hati. Untuk mendapatkan akurasi, ia melakukan perjalanan ke negaranegara Islam dengan menemui hampir 1.000 perawi hadis. Secara sabar, ia mendengarkan para perawi itu.

‘’Saya susun kitab Al Jami `Ash Shahihini di Masjidil Haram, Makkah, dan saya tidak mencantumkan sebuah hadis pun kecuali sesudah shalat istikharah dua rakaat memohon pertolongan kepada Allah SWT, dan sesudah meyakini betul bahwa hadis itu benar- benar shahih,’‘ ujar Al-Finbari, salah seorang murid Imam Bukhari, mengutip pernyataan gurunya. Di masjid bersejarah itulah, Imam Bukhari mulai menyusun buku kumpulan hadisnya yang sangat monumental. Dasar pemikiran dan bab demi bab Sahih Al- Bukahri disusunnya secara sitematis di Masjidil Haram.

Sedangkan, pembukaan serta pokok-pokok bahasannya ditulisnya di Rawdah Al Jannahsebuah tempat antara makam Rasulullah dan mimbar di Masjid Nabawi, Madinah. Pengumpulan, seleksi, dan penempatan hadis sahih dalam kitab Sahih Bukhari menghabiskan waktu selama 16 tahun. Ia menggunakan kaidah penelitian secara ilmiah dan modern sehingga hadishadisnya dapat dipertanggungjawabkan.

Untuk mendapatkan hadis yang benar-benar otentik, secara serius Imam Bukhari meneliti dan menyelidiki para perawai-nya. Tak cuma itu, Imam Bukhari pun melaku perbandingan hadis. Satu hadis dengan hadis lain dibandingkan. Ia lalu menguji dan mempertimbangkannya secara ilmiah untuk memutuskan mana yang paling sahih. Keontetikan hadis yang disusun Imam Bukhari sudah sangat terbukti dan teruji. Para ulama sepakat, hadis-hadis yang terdapat dalam kitab Al Jami `ash Shahihmemiliki tingkat kesahihan yang paling utama.

Profesionalitas yang ditunjukkan Imam Bukhari dalam melacak dan meneliti kesahihan sebuah hadis tak lepas dari bimbingan para gurunya. Beberapa ulama yang berpengaruh dalam kehidupan keilmuwan sang legendaris itu antara lain: Dhihaak Ibnu Mukhlid; Makkee Ibnu Ibraheem Khadhalee; Ubaidullah Ibnu Moosaa Abasa; Abdul Quddoos Ibnu Hajjaaj; dan Muhammad Ibnu Abdullaah Ansaaree.

Profesionalitas yang ditunjukkan Imam Bukhari juga menetes pada murid-muridnya. Begitu banyak muridnya yang menjadi ahli ilmu hadis yang terkenal dan terkemuka. Mereka adalah Turmudzi, Imam Muslim, Nasa’i, Ibrahim Ibnu Ishaq Al Harawi, Muhammad Ibnu Ahmad Ibn Dulabi, dan Mansur Ibnui Muhammad Bazduri.

Penulis : hri
REPUBLIKA - Kamis, 04 September 2008
http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/khazanah/09/03/19/38840-imam-bukhari-cahaya-dari-bukhara